Panduan Teknis Budidaya Cacing Sutra


Usaha ternak dan budidaya cacing sutra sampai saat ini masih sangat prospektif untuk dijalankan. Sampai saat ini permintaan cacing sutra terus mengalami peningkatan, sedangkan pasokan nya tidak bertambah dan cenderung mengalami penurunan dari waktu ke waktu.

Nah, untuk Anda yang berminat dengan usaha budidaya cacing sutra, berikut merupakan panduan teknis budidaya komoditi cacing sutra yang bisa Anda contoh:

Persiapan Benih
Sama seperti halnya aktivitas – aktivitas budidaya yang lain nya, dalam aktivitas budidaya cacing sutra, peternak juga membutuhkan benih.

Kualitas benih cacing sutra yang digunakan memegang peranan yang sangat besar terhadap tingkat kesuksesan budidaya cacing sutra. Oleh karena nya, peternak sebisa mungkin harus menggunakan bibit cacing sutra yang unggul.

Untuk mendapatkan benih cacing sutra sendiri, penulis lebih menyarankan untuk membeli nya dari peternak cacing sutra atau pun dari toko perlengkapan usaha perikanan yang memasok cacing sutra segar (yang masih hidup).

Bibit cacing sutra dari hasil budidaya (yang sudah dijual) biasanya cenderung jauh lebih aman dan potensial untuk dibudidayakan, karena pasti terbebas dari parasit dan penyakit.

Dalam kondisi urgent dimana Anda tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan benih cacing sutra dari alam liar, sebelum benih cacing sutra ditebar di lahan budidaya, Anda kami sarankan untuk melakukan aktivitas karantina benih di wadah khusus dengan air yang mengalir.

Persiapan Lahan Budidaya
Lahan budidaya cacing sutra harus dibuat semirip mungkin dengan habitat asli nya yaitu di lumpur.

Dalam hal ini, peternak bisa membuat wadah budidaya berupa bak yang diisi dengan bahan lumpur. Wadah budidaya sendiri bisa dibuat dari beberapa bahan material, seperti dari beton, terpal, atau pun plastik.

Lahan yang akan digunakan sendiri sebelum nya harus dipupuk dan difermentasi terlebih dahulu. Aktivitas pemupukan bisa dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang (dengan dosis 300 gr/M2) dan atau ampas tahu (dengan dosis 200 gr/M2) sekitar satu minggu sebelum waktu tebar benih.

Sedangkan aktivitas fermentasi bisa dilakukan dengan jalan merendam lahan yang telah dipupuk dengan air sekitar 4 hari sebelum waktu tebar benih.

Penebaran Benih
Setelah tahap persiapan lahan budidaya selesai dilaksanakan dan lahan benar – benar sudah siap untuk digunakan, benih cacing sutra dapat langsung ditebar.

Satu hal yang penting untuk diingat, setelah benih cacing tanah ditebar ke lahan, lahan harus terus diairi dengan tingkat kecepatan debit air kurang lebih 2 – 5 liter per menit dengan arus aliran air yang lamban.

Pemeliharaan
Sama seperti hal nya komoditi ternak yang lain nya, untuk bisa tumbuh dan berkembang biak, cacing sutra juga perlu dipelihara dan diberi pakan.

Dalam hal ini, karena pakan cacing sutra merupakan bahan micro organik yang tumbuh di dalam lumpur, maka untuk memenuhi kebutuhan pakan cacing sutra, kita harus melakukan upaya tambahan untuk menumbuhkan bahan organik tersebut, yaitu dengan melakukan aktivitas pemupukan dan perairan secara berkala pada lahan budidaya cacing sutra.

Pemanenan
Pada dasar nya cacing sutra dapat dipanen kapan saja.

Meski pun begitu, normal nya para peternak yang sudah berpengalaman baru akan melakukan aksi panen setelah aktivitas budidaya berlangsung setidaknya selama 4 minggu (panen pertama), dan dilakukan secara berulang setiap dua minggu sekali.

Dalam memanen cacing sutra sendiri, peternak dapat menggunakan serok atau pun saringan khusus yang tidak tajam dan terbuat dari bahan yang lembut.

Normal nya, untuk memisahkan cacing sutra dari lumpur, setelah cacing tanah dipanen, para peternak akan meletakkan cacing sutra di bak yang dialiri air bersih hingga cacing sutra benar – benar terbebas dari lumpur.

Nah, itulah sedikit informasi mengenai panduan teknis budidaya cacing sutra yang bisa kami bagikan untuk Anda. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat ya!

    gambaran wadah ternak cacing sutra