Panduan Praktis Cara Budidaya Belut

Budidaya Belut, bibit belut, budidaya belut sawah, budidaya belut air bersihJumlah peternak yang menjalankan usaha budidaya belut sampai saat ini masih tergolong sangat sedikit. Padahal, angka permintaan belut, terutama yang berasal dari pasar ekspor terus mengalami peningkatan setiap tahun nya.


Jika ditinjau dari segi bisnis, potensi usaha budidaya belut tergolong masih sangat menjanjikan. Hal ini dikarenakan, hingga saat ini masih ada gap yang cukup lebar antara angka permintaan dengan angka penawaran komoditi belut, dimana dalam hal ini angka permintaan masih jauh lebih besar dari angka penawaran.

Nah, jika Anda tertarik untuk terjun menjalankan usaha ternak belut, berikut merupakan sedikit tulisan berisi panduan praktis cara budidaya belut yang bisa Anda jadikan pedoman dalam memulai usaha budidaya belut:

Tahap Pemilihan Benih
Sampai saat ini bibit untuk aktivitas budidaya belut masih belum bisa diproduksi dengan cara buatan. Dengan kata lain, aktivitas budidaya belut sampai saat ini masih mengandalkan benih hasil tangkapan dari alam liar.

Normal nya, benih hasil tangkapan dari alam liar yang bagus untuk dibudidayakan adalah benih yang berukuran seragam, sehat, bebas penyakit, bebas parasit, lincah dan berwarna cerah.

Persiapan Lahan
Habitat alami belut adalah di daerah lumpur. Oleh sebab itu, agar aktivitas budidaya belut bisa berjalan dengan baik, lahan budidaya sebisa mungkin harus dibuat semirip mungkin dengan habitat alaminya, yaitu daerah lumpur di persawahan.

Meski pun begitu, untuk meningkatkan jumlah micro organisme pakan alami berupa fito dan zoo plankton, wadah lumpur yang akan digunakan untuk aktivitas budidaya sebaiknya dipupuk terlebih dahulu menggunakan pupuk kandang, dedak, pelepa pisang, mikroba decomposer, dan juga sekam padi.

Perlu diketahui, sebelum aktivitas penebaran benih dilangsungkan, wadah yang telah dipupuk harus diairi dan diberakan terlebih dahulu selama kurang lebih 5 – 8 hari. Hal ini perlu dilakukan untuk memicu pertumbuhan micro organisme fito dan zoo plankton yang notabene merupakan pakan alami untuk belut.

Penebaran Benih
Langkah praktis cara budidaya belut yang selanjutnya adalah aktivitas penebaran benih.

Sesaat setelah wadah untuk aktivitas budidaya selesai diberakan dan benih sudah disortir, benih dapat langsung ditebar ke wadah budidaya.

Normalnya, dalam menjalankan aktivitas penebaran benih, para peternak belut yang sudah berpengalaman akan menggunakan angka pada tebar sekitar 50 hingga 100 ekor belut per meter persegi wadah budidaya.

Pemberian Pakan
Aktivitas pemberian pakan dapat dilakukan dengan mengikuti angka pemberian pakan standar sekitar 5 hingga 20 persen dari total bobot hidup benih.

Pakan yang diberikan kepada belut bisa berupa pakan hidup mau pun pakan mati. Beberapa jenis pakan hidup yang bisa diberikan pada belut adalah cacing, kutu air, kecebong, larva ikan, jentik – jentik, dll (untuk belut kecil), dan kepiting, belatung, bekicot, katak, ikan, dll (untuk belut dewasa). Untuk pakan mati, peternak juga bisa memberikan pelet yang memiliki tingkat protein tinggi, daging ikan rucah, ayam mati, cincangan bekicot, dll.

Pemberian pakan sendiri bisa dilakukan sebanyak 3 kali per hari, yaitu di malam (paling utama), pagi (sebelum matahari terbit), dan siang hari.

Pemanenan
Aktivitas pemanenan belut pada dasarnya bisa dilakukan kapan saja. Dalam hal ini, aktivitas pemanenan bisa disesuaikan dengan target pasar yang ingin dituju oleh peternak belut.

Normalnya, untuk kebutuhan pasar dalam negeri, aktivitas panen belut sudah bisa dilakukan setelah benih berusia 2 hingga 4 bulan sejak pertama kali ditebar ke wadah budidaya. Sedangkan untuk kebutuhan pasar ekspor (luar negeri), aktivitas panen sebaiknya dilakukan setelah belut berusia kurang lebih 5 hingga 7 bulan sejak pertama kali ditebar.

Itulah sedikit tulisan mengenai panduan praktis budidaya belut yang bisa kami sampaikan kepada Anda. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat ya!